Hilang

Ketika berbicara tentang yang namanya hilang, kehilangan, kenapa selalu identik dengan kesedihan? Manusia mengartikan kata 'hilang' sebagai gambaran ketika sesuatu atau seseorang pergi, meninggalkan ataupun ditinggalkan. Mari kaji ulang, apakah hilang selalu tentang air mata?

Saat seorang anak kecil memiliki cokelat, setelah habis maka dia akan kehilangan cokelatnya bukan? tentu saja. Sama pula halnya ketika seorang wanita mati-matian menabung dan membeli peralatan kosmetik yang harganya selangit pun pada akhirnya akan habis, hilang juga kan? lalu apakah mereka bersedih, menangis? Tentu tidak. Anak kecil yang kehilangan cokelatnya tadi akan merasa senang, karena apa? dia menjadi kenyang setelah menghilangkan cokelat ke dalam perutnya. Wanita tersebut juga akan merasa bahagia berkat kosmetik itu dia tampil lebih cantik, percaya diri.

Sudah menemukan point-nya?

Hilang tidak selalu tentang kesedihan ketika kita mampu melihatnya dari sisi yang berbeda. Terlahir di dunia pun sedari awal kita sudah akan dipertemukan oleh berbagai kehilangan-kehilangan. Entah itu barang, uang, dan seseorang yang berharga sekali pun. Tanpa kita sadari, hal-hal kecil yang ada di sekeliling kita setiap harinya akan menemukan titik jenuhnya alias akhir dari masanya dan tanpa kita sadari pula akan lahir kembali hal-hal baru yang menggantikan hal yang 'hilang' tersebut. Iya kan?

Zaman akan dimakan usia, begitu juga orang-orang yang ada di sekeliling kita. Pernah dengar bahwa setiap hari ada ribuan orang yang meninggal dunia? Dan setiap hari pun ada seseorang yang dilahirkan ke dunia. Membawa kebahagiaan bagi kedua orang tuanya, bukankah menyenangkan ketika melihat bayi mungil membuka mata mereka untuk pertama kalinya? Berbanding terbalik dengan hal itu, ketika seseorang telah tiba pada saat dia harus meninggalkan dunia ini, kerabat bercucuran air mata, berusaha menerima dengan susah payah, tak dapat dipungkiri hal tersebut memang patut dikatakan sebagai sebuah kehilangan yang menyedihkan.

Lantas kita harus terus menerus bersedih?

Jangan, secepatnya gantilah kehilangan yang menyedihkan itu menjadi kehilangan yang memiliki arti.
Karena apa, sepertinya di saat-saat kehilangan yang sedih seperti itulah tanpa kita sadari kita telah menemukan kekuatan yang terlahir di dalam diri kita. Merelakan kepergian, bersabar akan kehilangan memang susah, namun telah membuat kita menjadi orang yang lebih kuat. Semakin banyak bertemu dengan kehilangan semacam itu membuat kita semakin kuat, tegar.

Jadi, percayalah ketika badai menghampiri, lambat-laun akan pergi juga, hilang digantikan dengan hujan yang akhirnya memamerkan pelanginya. Seseorang yang saat ini menjadi orang spesial dalam hidup kita pasti akan pergi suatu saat nanti, hilang, entah itu untuk selamanya, atau memang mereka telah menemukan hal baru yang memang sudah ditakdirkan untuk mereka.

Nikmati kehilangan-kehilangan yang terjadi, jika memang untuk ditangisi yasudah sepatutnya begitu. Namun, berbahagialah, karena apa? Kita pun nanti juga akan hilang dan tinggal menjadi nama, entah itu dalam list orang tersayang, bekas teman, atau mantan pacar sekalipun.

Saya berpikirnya begitu.

-R.an-


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Camelia

Terbit Rela

Jeda